AD PLACEMENT

THE FUNTASTIC FOUR: Perjalanan ke Bandung

AD PLACEMENT

Jumat, 16 Januari 2026
14.00

Setelah memastikan satu per satu rekan kami benar-benar berangkat ke tujuan masing-masing—Semarang dan Bogor—akhirnya kami berkumpul di satu titik yang telah disepakati. Siang itu matahari Jakarta terasa menyengat, seolah belum rela melepas kami pergi.

Saya tiba lebih dulu dan memarkirkan Innova di sisi jalan. Mesin dimatikan, pintu terbuka, bagasi menunggu diisi. Mobil itu, yang sehari-hari terasa biasa saja, siang itu mendadak memiliki peran penting: mengantar sebuah perjalanan yang belum kami tahu akan menjadi cerita seperti apa.

Di antara kami berlima, hanya ada dua orang yang bisa mengemudi: saya dan Edy. Edy adalah perantau asal Sibolga, Sumatra—sosok yang terlihat tenang, tidak banyak bicara, dan selalu tampak terkendali. Dalam hati, saya berharap ia bersedia mengambil alih kemudi.

Satu per satu mereka datang. Tas dilempar ke bagasi, pintu mobil ditutup, dan candaan kecil mulai mengalir. Suasana berubah cepat—dari biasa saja menjadi penuh antusiasme yang sulit dijelaskan.

Pukul 15.05 WIB, kami akhirnya berangkat.

“Edy, kamu bawa saja,” ujar saya.

Ia mengangguk singkat, lalu menyalakan mesin. Innova bergerak, meninggalkan titik awal dengan perasaan ringan.

Begitu keluar dari Jakarta, obrolan di dalam mobil mengalir tanpa arah yang pasti. Musik diputar dengan volume sedang, cukup untuk menemani, tidak mendominasi. Kami membicarakan hal-hal remeh—tentang rencana makan, tentang lelah kerja, tentang siapa yang biasanya paling cepat tertidur di perjalanan jauh.

Di tengah perjalanan, ponsel saya bergetar. Nama Ricky muncul di layar.

Saya terdiam sejenak. Ricky seharusnya sudah berangkat ke Semarang semalam.

Saya menelponnya.

“Rick, jadi berangkat nggak?”
“Belum, tadi malam batal. Tapi sore ini tetap berangkat kok. Ini sudah sampai Cirebon.”

Saya menarik napas lega. Pikiran yang sempat berkelana ke berbagai kemungkinan akhirnya kembali tenang. Ah Ricky! Kamu buat aku khawatir.

Perjalanan berlanjut hingga kami tiba di Rest Area KM 88. Mobil diparkir, kami turun dan meregangkan tubuh. Ada yang langsung menuju musala, ada yang mencari minum, ada pula yang sekadar duduk menikmati jeda sambil sebat.

Kami beristirahat sejenak. Shalat Asar. Menenangkan badan. Mengumpulkan energi. Angin sore mulai terasa berbeda—lebih sejuk, lebih bersahabat. Seolah Bandung mulai menyambut dari kejauhan.

Tak lama kemudian, kami kembali ke mobil.

Edy mengemudi dengan stabil, membawa kami menembus jalanan hingga akhirnya keluar di Gerbang Tol Baros. Begitu memasuki kawasan itu, satu hal langsung muncul dalam pikiran kami.

Bakso.

Kami berhenti di sebuah kedai bakso yang berada tak jauh dari pintu tol. Bagi Chandra, bakso bukan sekadar makanan—ia adalah kegemaran yang sulit ditolak. Mangkok-mangkok berisi kuah panas tersaji di meja. Uap mengepul, sendok beradu, dan obrolan kembali hidup.

Perjalanan terasa lunas oleh semangkuk bakso sederhana.

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah. Jalanan mulai lebih lengang. Udara Bandung menyapa dengan dingin yang halus. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, mengiringi kedatangan kami.

Hari itu kami tiba tanpa drama, tanpa kejadian besar.

Namun kami tahu, perjalanan ini baru saja dimulai.

Dan Bandung—
belum sepenuhnya membuka ceritanya.

Lanjut ke episode 3 : https://slamet.id/the-funtastic-four-braga/

AD PLACEMENT
You might also like
THE FUNTASTIC FOUR: Hari Terakhir di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Hari Terakhir di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR

THE FUNTASTIC FOUR

AD PLACEMENT