Istiqlal, 26 Oktober 2025
Kami bertemu bukan di stadion, bukan di layar besar penuh sorak sorai, tapi di Masjid Istiqlal — tempat yang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih dalam.
Aku penggemar Liverpool, dia pendukung MU. Biasanya, kami saling ledek di grup WA, debat siapa yang paling hebat, siapa yang paling layak disebut “The Best Club in the World”. Tapi malam ini, suasananya berbeda. Tidak ada jersey, tidak ada rivalitas — hanya dua sahabat yang sedang merenung tentang hidup.
Kami duduk di tangga masjid, memandangi langit Jakarta yang redup setelah hujan sore.
Percakapan kami tak lagi soal skor pertandingan, tapi tentang mimpi dan perjuangan. Tentang bagaimana hidup juga seperti sepak bola — kadang kamu di atas, kadang kamu harus jatuh, tapi yang penting kamu tetap main sampai peluit akhir dibunyikan.
Dia bilang, “Bang, mungkin kita dukung tim berbeda, tapi kita punya arah yang sama: pengen jadi versi terbaik dari diri kita.”
Aku tersenyum, “Setuju dek. Kita bukan lagi saingan, tapi sahabat satu perjuangan.”
Malam itu, kami sepakat. Tiga bulan ke depan, kami akan fokus. Masing-masing dengan misi pribadi — dia ingin menjadi yang terbaik untuk UKT nya, aku ingin konsisten menulis dan berbagi motivasi.
Kami berjanji untuk bertemu lagi di tempat yang sama, di Istiqlal, akhir Januari 2026. Bukan untuk membandingkan siapa yang lebih sukses, tapi untuk saling mengingatkan bahwa perjalanan ini lebih penting daripada hasilnya.
Karena hidup, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang menang. Tapi tentang siapa yang tetap setia pada mimpinya — dan siapa yang tetap menjaga sahabatnya, meski berbeda warna, berbeda pilihan, berbeda jalan.
Dan malam itu, di Istiqlal, kami tahu…
Persahabatan kami lebih besar daripada sekadar MU dan Liverpool.
Refleksi:
Hidup akan selalu mempertemukan kita dengan orang-orang yang berbeda — berbeda cara berpikir, berbeda arah, bahkan mungkin berbeda keyakinan. Tapi kalau niat kita sama-sama ingin menjadi pribadi yang lebih baik, maka perbedaan bukan alasan untuk menjauh.
Persahabatan sejati bukan tentang siapa yang paling sama, tapi siapa yang tetap bertahan di tengah segala perbedaan.
Karena pada akhirnya, bukan lambang di dada yang menentukan arah hidupmu, tapi niat di hati dan kesungguhan dalam langkahmu.
Dan mungkin…
setiap pertemuan di tempat suci seperti Istiqlal, bukanlah kebetulan.
Itu adalah cara Tuhan mengingatkan: bahwa perjalanan menuju kebaikan, selalu lebih indah kalau ditempuh bersama.
