Dalam dunia yang gaduh dan serba cepat,
Aan Mansyur menulis dengan nada pelan. Tapi justru dari kepelanan itulah, kita seperti dihantam pelan-pelan—dan dibiarkan sadar pelan-pelan.
Bahasa Pohon-Pohon Tumbang bukan sekadar buku puisi.
Ia seperti perjalanan batin, di mana Aan meminjam pohon, langit, tubuh, luka, bahkan keheningan sebagai bahasa untuk bicara tentang hal yang kadang tidak bisa kita ucapkan sendiri.
Buku ini berisi kumpulan puisi pendek dan reflektif yang:
Ini bukan buku puisi buat diselesaikan cepat.
Tapi buat dibaca pelan. Diulang. Direnungkan. Diulang lagi.
Ciri khas Aan adalah kalimat pendek—tapi gak pernah cetek.
“Pohon tumbang bukan cuma kehilangan berdiri.
Ia kehilangan langit tempat daun-daunnya menatap harapan.”
Atau puisi begini:
“Yang jatuh bukan hanya daun.
Tapi cerita yang lupa kita tulis.”
Aan sering kali menulis seperti orang yang menyimpan luka, lalu memberikannya pada pembaca untuk ikut diendapkan.
Buku Bahasa Pohon-Pohon Tumbang mengajarkan kita bahwa:
“Tak semua suara bisa kita dengar dengan telinga.
Ada suara-suara yang hanya bisa kita tangkap saat hati kita benar-benar diam.”
Aan tidak menggurui. Ia menuliskan luka, kehilangan, alam, dan cinta… seperti daun yang jatuh tanpa bunyi, tapi kita tahu: itu tetap ada. Tetap berarti.
Kalau kamu mau beli bukunya bisa klik di sini
