AD PLACEMENT

THE FUNTASTIC FOUR: Hari Terakhir di Bandung

AD PLACEMENT

Pagi itu Bandung terasa lebih dingin dari hari-hari sebelumnya.

Rumah masih sunyi. Edy, Chandra, Teguh, dan Gusti terlelap—tidur yang dalam, tanpa gelisah. Wajah mereka menyimpan sisa kelelahan dari dua hari perjalanan yang padat, namun juga ketenangan yang jarang muncul setelah rutinitas panjang.

Saya memilih tidak membangunkan mereka.

Biarlah pagi ini berjalan perlahan.

Bersama istri, saya pergi ke minimarket untuk menyiapkan sarapan. Setelah kupat tahu Padalarang kemarin, pagi ini kami ingin menyajikan sesuatu yang lebih sederhana—nasi goreng. Bukan menu istimewa, bukan pula sajian yang mewah. Namun ada niat di baliknya: menghadirkan rasa pulang.

Nasi goreng itu kami siapkan dengan tenang. Telur, bumbu, dan perhatian kecil yang tak terlihat. Saya berharap, lewat sarapan ini, mereka merasakan satu hal sederhana—bahwa di Bandung, mereka tidak hanya bertamu, tetapi juga diterima.

Pukul 10.00, saya membangunkan mereka.

Kami sarapan bersama. Duduk santai, bercakap ringan, tertawa kecil. Tidak ada topik besar. Tidak ada rencana lanjutan. Pagi itu terasa cukup dengan kebersamaan itu saja.

Setelahnya, mereka kembali beristirahat. Tidur lagi. Berbaring tanpa rasa bersalah. Saya membiarkannya.

Ini rumah kalian juga, pikir saya.

Hingga pukul 14.00, hari terakhir kami habiskan dengan hal-hal sederhana—berbaring, bermain gim di ponsel, berbagi cerita yang tak selalu penting, namun terasa dekat. Tidak ada ambisi untuk ke mana-mana. Tidak ada dorongan untuk memaksimalkan waktu.

Kami memilih menikmatinya.

Pukul 15.00, kami sepakat kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat, kami mencari makan siang. Rencana menikmati tutug oncom urung terlaksana karena tempatnya tutup. Kami melanjutkan pencarian hingga menemukan sebuah rumah makan Sunda di dekat pintu tol: Saung Ibu Yetti.

Kami memesan ayam bakar dan cumi bakar. Lalapan tersaji lengkap, sambal pedas menyengat lidah. Makan siang itu kami nikmati tanpa tergesa. Rasa pedas bercampur tawa kecil, menjadi penutup yang tepat sebelum perjalanan pulang.

Selepas makan, kami masuk tol. Arus kendaraan padat—orang-orang kembali ke Jakarta dengan cerita masing-masing. Kami berhenti di KM 88 untuk beristirahat, menyeruput kopi, dan menunaikan salat Magrib.

Setelahnya, perjalanan dilanjutkan. Jalanan masih padat, namun bergerak. Ketika memasuki jalan layang MBZ, laju kendaraan mulai lebih lancar. Lampu-lampu kota terbentang panjang, mengiringi kami menuju akhir perjalanan.

Pukul 21.00 WIB, kami tiba kembali di Jakarta.

Mobil berhenti. Pintu terbuka. Barang diturunkan. Kami berdiri sejenak, tanpa banyak kata. Tidak ada pelukan berlebihan, tidak ada janji yang diucapkan dengan suara lantang. Namun rasa haru hadir, halus dan nyata.

Perjalanan sejak Jumat hingga Minggu itu—
alhamdulillah—
berjalan lancar. Kami diberi keselamatan, kesehatan, dan waktu yang cukup untuk bersama.

Ekspedisi ke Bandung bersama The Funtastic Four meninggalkan lebih dari sekadar foto dan cerita. Ia menyisakan kenangan yang kelak akan muncul kembali—di sela kesibukan, di tengah jarak, di saat rindu datang tanpa sebab.

Untuk Edy, Chandra, Teguh, dan Gusti—
Bandung akan selalu membuka pintunya.

Dan di kota itu,
sebuah keluarga kecil
menunggu,
dengan cinta
yang tak berkurang.

THE END

AD PLACEMENT
You might also like
THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: Perjalanan ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Perjalanan ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR

THE FUNTASTIC FOUR

AD PLACEMENT