Hujan masih turun ketika kami meninggalkan kawasan Tangkuban Perahu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kendaraan, membuat suasana sore itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Edy tetap setia di balik kemudi, membawa Innova menuruni jalur Lembang menuju Setiabudi bersama arus kendaraan wisatawan yang bergerak perlahan ke arah kota.
Perjalanan berlangsung lambat, namun tidak membosankan. Di dalam mobil, musik mulai berganti-ganti—lagu favorit kami diputar bergantian, tanpa aturan. Ada yang bernuansa lama, ada yang berirama cepat, ada pula yang mengundang tawa karena terlalu ceria untuk suasana hujan.
Edy, yang biasanya tampak tenang dan pendiam, malam itu menunjukkan sisi lain. Bahunya bergerak mengikuti irama lagu, kepalanya bergoyang kecil, sesekali tersenyum lepas. Kami saling pandang, lalu tertawa.
Di Jakarta, ia hampir selalu terlihat kalem. Di perjalanan ini, di tengah hujan dan macet, ia justru tampak paling menikmati suasana.
Candaan mengalir, menghangatkan udara di dalam mobil. Hujan dan dingin di luar seolah kehilangan kuasanya.
Chandra kemudian memutar beberapa lagu dari Manado. Tak lama, Edy membalasnya dengan lagu-lagu Batak. Dari musik, percakapan beralih pada cerita daerah asal—tentang makanan, kebiasaan, suasana kampung, dan kehidupan yang ditinggalkan sementara demi merantau.
Malam itu kami saling mendengar.
Tanpa tergesa.
Tanpa perlu saling mengesankan.
Jam menunjukkan 20.30 ketika rasa lapar kembali hadir. Saya teringat kawasan Ganesha, tempat jajanan mahasiswa berderet tanpa pretensi. Kami sepakat menuju ke sana.
Mobil diparkir. Kami berjalan menyusuri deretan kedai hingga akhirnya memilih sebuah tempat yang menyajikan ramen. Di udara malam Bandung yang dingin, semangkuk kuah panas terasa tepat. Kami makan dengan lahap, seolah mengisi ulang tenaga yang terkuras sejak pagi.
Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan menuju Gedung Sate, ikon lain kota ini. Namun waktu tidak berpihak. Malam telah terlalu larut, kawasan itu tampak sepi dan tertutup. Kami hanya melintas, lalu mengalah pada keadaan.
Mobil kembali melaju melewati Pasopati dan masuk Tol Pasteur. Namun keinginan untuk mengakhiri malam terlalu cepat terasa berat. Kami memutuskan mencari kedai kopi.
Sebuah kedai di dekat pintu keluar tol kami singgahi, tetapi suasananya ramai. Anak-anak muda memenuhi ruangan, dan kami diminta menunggu. Jam sudah menunjukkan 23.00. Kami memilih mencari tempat lain.
Akhirnya kami berhenti di sebuah kedai kopi dekat stasiun kereta. Tempatnya lebih tenang. Musiknya rendah. Cocok untuk berbincang.
Kopi disajikan. Kami duduk lebih lama dari yang direncanakan. Obrolan perlahan berubah arah—tentang kehidupan, rencana ke depan, dan harapan-harapan kecil yang jarang terucap. Tidak ada yang merasa perlu menasihati. Kami hanya berbagi.
Waktu berjalan pelan. Jam mendekati 01.00 ketika kami akhirnya memutuskan kembali ke rumah. Tubuh lelah, mata berat, tetapi perasaan kami ringan.
Hari itu panjang.
Basah oleh hujan.
Padat oleh jalanan.
Namun malam kedua di Bandung memberi kami sesuatu yang lebih dari sekadar tempat singgah:
rasa dekat yang tumbuh tanpa dipaksa.
Lanjut ke episode 6 : https://slamet.id/the-funtastic-four-hari-terakhir-di-bandung/