Pagi datang dengan dingin yang tertahan di udara. Setelah semalam menyusuri kota, tubuh kami masih menyimpan sisa lelah. Edy, Chandra, Teguh, dan Gusti terlelap lebih lama dari biasanya—barangkali akibat dua hari yang padat oleh langkah, tawa, dan hujan.
Saya membiarkan mereka tidur. Tidak ada yang perlu diburu pagi itu.
Sarapan telah disiapkan. Kupat tahu Padalarang—ketupat, tahu, tauge, dan kuah gurih yang hangat—menghadirkan rasa sederhana yang tepat untuk mengawali hari. Makan perlahan, tanpa percakapan yang tergesa. Dingin pagi Bandung terasa ramah, seolah memberi izin untuk bergerak dengan tempo sendiri.
Usai sarapan, kami duduk di teras. Chandra dan Edy menyandarkan punggung sambil merokok, Gusti dan Teguh duduk di lantai teras. Matahari muncul malu-malu, menghangatkan pagi yang sempat menggigil.
Beberapa pilihan tujuan dibicarakan. Tidak lama. Dari semuanya, satu nama akhirnya mengikat keputusan kami.
Tangkuban Perahu.
Jam 10.00, perjalanan dimulai. Innova melaju menuju Tol Pasteur. Peta digital menunjukkan banyak titik merah—Bandung sedang ramai. Edy mengarahkan mobil ke Setiabudi. Di tengah jalan kami berhenti sejenak untuk membeli kopi dan camilan; bekal kecil untuk perjalanan yang belum kami tahu akan sepadat apa.
Menuju Lembang, arus lalu lintas kian padat. Mobil bergerak perlahan. Setiabudi merayap. Langit yang semula cerah tiba-tiba berubah. Hujan turun, membasahi aspal dan mengaburkan pandangan.
Kekhawatiran sempat muncul. Macet, hujan, dan tanjakan bukan kombinasi yang ramah. Namun di dalam mobil, semangat tetap terjaga. Edy mengemudi dengan tenang; yang lain memilih percaya.
Waktu berjalan. Pukul 13.30, perut meminta perhatian. Kami berhenti di sebuah restoran nasi liwet di tanjakan pengkolan arah Lembang. Dari sana, perbukitan Bandung terlihat indah—hijau, basah, dan tenang. Kami sempat mengabadikan pemandangan, lalu memesan nasi liwet lengkap: ayam bakar, ikan asin, tahu-tempe, lalapan, pete, dan sambal pedas.

Di tengah hawa dingin, hidangan itu terasa istimewa. Tidak ada sisa. Setelah makan, kami menunaikan salat Zuhur dan melanjutkan perjalanan.
Kemacetan masih setia menemani. Namun obrolan ringan di dalam mobil membuat waktu bergerak lebih ramah. Jalan demi jalan terlewati hingga akhirnya kami tiba di pos pintu masuk Tangkuban Perahu. Tiket untuk lima orang dan satu mobil dibayar; kami bergerak naik menuju puncak.
Udara menyambut dengan dingin yang lebih tegas. Gerimis turun, angin berembus kencang. Di puncak, kawah terbentang—sunyi dan megah. Kami berdiri sejenak, memandang, menghirup udara, lalu mengabadikan momen. Foto sendiri, foto bersama—tanpa banyak pose, tanpa perlu kata.





Peringatan petugas terdengar. Angin kian kuat. Hujan tak berhenti. Kami diminta segera turun. Jam telah melewati 17.00.
Kami menuruni gunung dengan perasaan campur aduk. Waktu di puncak memang singkat, tetapi cukup untuk menyisakan kesan yang utuh. Ada kepuasan yang tenang—perasaan telah menjejakkan kaki, telah mencoba, telah hadir.
Innova kembali melaju menuruni jalan, meninggalkan kabut dan dingin, kembali menuju kota.
Hari itu, kami belajar bahwa tidak semua perjalanan perlu lama untuk bermakna.
Kadang, yang singkat justru menetap paling lama.
Lanjut ke episode 5: https://slamet.id/the-funtastic-four-malam-kedua-di-bandung/