Kamis, 22 Januari 2026
07.47 WIB
Pagi itu kantor belum sepenuhnya hidup, tetapi pikiran saya sudah lebih dulu berjalan.
Jam menunjukkan pukul 07.47 ketika saya berdiri di sudut ruangan EFA, menatap layar ponsel sambil menyeruput kopi yang masih panas. Suasana kantor pelan-pelan terisi—suara kursi ditarik, tuts keyboard ditekan, dan obrolan singkat tentang hal-hal remeh yang mengawali hari.
Di antara semua itu, Chandra duduk tenang di mejanya. Wajahnya terlihat santai, tetapi matanya kosong, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain.
“Libur tiga hari ini kamu ke mana?” tanya saya, menghampirinya.
Chandra menoleh sebentar, lalu mengangkat bahu.
“Belum tahu. Paling di kos saja.”
Jawaban itu sederhana, tetapi entah mengapa terasa sayang jika dibiarkan begitu saja.
Saya mulai bertanya ke beberapa orang lain. Satu per satu rencana terungkap. Anak-anak training asal Semarang—Dian, Dimas, Ricky, Adhim, dan Priyo—ternyata sudah memegang tiket pulang kampung. Ada yang memilih kereta, ada pula yang naik bus. Mereka berangkat Kamis malam dan tiba Jumat pagi.
Dito, rekan kami dari Manado, juga sudah memiliki agenda sendiri. Ia berencana pergi ke Bogor bersama teman-temannya.
Tanpa disadari, tersisa empat nama yang belum memiliki rencana apa pun:
Chandra, Edy, Teguh, dan Gusti.
Empat orang.
Tiga hari libur.
Tanpa tujuan.
Saya kembali menghampiri Chandra. Kali ini nada bicara saya lebih pelan.
“Sayang nggak, kalau libur cuma lewat begitu saja?”
Chandra terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.
“Iya juga.”
Kalimat itu menjadi awal dari segalanya.
Kami mulai berdiskusi perlahan, seperti menyusun rencana rahasia. Libur tiga hari bukan tentang pergi sejauh mungkin, melainkan tentang menciptakan momen yang kelak layak dikenang. Tidak semua kebersamaan bisa diulang, dan kami menyadari itu.
Untuk menjaga rencana tetap rapi, kami sepakat melakukan survei terlebih dahulu—soal waktu, biaya, dan tujuan. Di tengah pembicaraan itu, satu nama kota muncul begitu saja dalam pikiran saya.
Bandung.
Dekat dari Jakarta.
Kulinernya beragam.
Tempat nongkrongnya tak terhitung.
Akhirnya kami membuat sebuah grup kecil. Grup rahasia, hanya untuk kami berlima. Tanpa suara luar, tanpa gangguan, tanpa rencana setengah-setengah.
Ketika semuanya mulai terasa nyata, saya mengambil keputusan pribadi. Saya membuka aplikasi perjalanan dan membatalkan tiket yang sudah saya miliki. Tiket itu hangus.
Tidak apa-apa.
Ada hal yang lebih penting daripada uang yang bisa dicari kembali: kebersamaan yang mungkin tak akan datang dua kali.
Tanpa kami sadari, pagi itu bukan sekadar awal libur panjang.
Ia adalah awal dari sebuah cerita.
The Funtastic Four.
Lanjut ke episode 2 : https://slamet.id/the-funtastic-four-perjalanan-ke-bandung/