AD PLACEMENT

Puncak Paralayang

AD PLACEMENT

Minggu pagi, 27 Juli 2025, jam menunjukkan pukul 05.00. Suara adzan subuh masih bergema sayup-sayup di sekitar Drajih Camp. Aku, Faizal, Faril, dan Arif selesai menunaikan shalat subuh di mushola kecil area camping.

“Guys, gimana siap tracking pagi ini?” Faizal bertanya dengan semangat.

“Siap! Walau jujur nih kaki gue agak gemetar dengar cerita jalurnya,” jawabku dengan sedikit gugup.

“Santai aja bro, anggap aja ini legday versi outdoor,” timpal Faril sambil tertawa.

Setelah membeli tiket seharga Rp 20.000 per orang di office Drajih, kami segera memulai petualangan. Langit masih gelap, namun semburat cahaya mulai terlihat samar di timur. Suasana dingin membuat kami mempercepat langkah.

Perjalanan menuju pos 1 ternyata cukup terjal. Meski jalur sudah ditandai, tetap saja nafas kami mulai ngos-ngosan.

“Aduh, kayaknya kemarin gue lupa bawa paru-paru cadangan nih,” kataku terengah-engah, berhenti sejenak mengatur nafas.

“Hahaha, makanya sering-sering olahraga, jangan cuma push up depan TV doang,” canda Arif sambil menarik tanganku membantu naik.

Menuju pos 2, jalur semakin berat. Faril yang paling bugar, berjalan santai di depan sambil sesekali berhenti melihat ke belakang.

“Faizal, lo masih hidup kan?” teriak Faril dari atas.

“Tenang, masih ada denyutnya kok!” balas Faizal sambil melambaikan tangan lemah namun penuh tawa.

Setelah melalui jalur sulit, akhirnya jalan menuju pos 3 mulai bersahabat. Kami merasa lega, langkah kami terasa lebih ringan.

“Nah ini baru mantap! Udah kayak jalan di mall,” celetuk Arif disambut tawa kami semua.

Tak lama kemudian, sampailah kami di puncak Paralayang. Nafas kami terhenti sejenak melihat keindahan sunrise yang mulai muncul perlahan di ufuk timur.

“Wah, akhirnya terbayar juga penderitaan kita,” kataku sambil tersenyum lebar.

“Bro, penderitaan cuma kamu kali, kita mah kuat,” goda Faril.

Di puncak, kami bertemu seorang pendaki bernama Dapi yang sudah tiba lebih dulu.

“Wah kalian pagi banget nyampenya. Gue aja baru lima menit di sini,” sambut Dapi ramah.

Kami pun duduk bersama menikmati hangatnya matahari pagi sambil bercerita dan bercanda. Faril mulai melakukan peregangan yang diikuti aku, arif dan Faizal dengan gaya kocaknya.

“Push up yuk biar kekar,” ajak Faril sambil mulai bergerak.

“Gue ikutan kalau push up-nya tiduran aja boleh nggak?” canda Faizal yang disambut gelak tawa kami semua.

Setelah puas menikmati keindahan puncak dan mengabadikan beberapa momen dengan foto-foto, kami akhirnya turun kembali ke basecamp. Matahari sudah meninggi, namun semangat kami tetap tinggi.

“Perjalanan hari ini epic banget sih, next kita cari gunung yang lebih tinggi yuk!” ajak Arif penuh antusias.

“Boleh, tapi kayaknya gue harus latihan dulu sebulan penuh sebelum ikut kalian,” balasku sambil terkekeh.

Tawa hangat kami terus menemani perjalanan turun. Pengalaman ini semakin mempererat persahabatan kami, menjadi kenangan indah yang akan selalu kami ingat.

catatan kecil dari Drajih Camp Bogor

AD PLACEMENT
You might also like
THE FUNTASTIC FOUR: Hari Terakhir di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Hari Terakhir di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Malam Kedua di Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: Tangkuban Perahu

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: BRAGA

THE FUNTASTIC FOUR: Perjalanan ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Perjalanan ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

THE FUNTASTIC FOUR: Expedisi ke Bandung

AD PLACEMENT