AD PLACEMENT

🎨 Understanding Color Theory: The Color Wheel & Finding Complementary Colors (Tanpa Bikin Pusing Kepala)

AD PLACEMENT

Warna itu kayak bumbu dalam masakan—kalau pas, hasilnya sedap dipandang. Tapi kalau asal campur? Bisa-bisa hasil desain kamu kayak karnaval salah kostum.

Nah, biar kamu nggak salah mix warna lagi, yuk kenalan sama konsep dasar yang namanya Color Theory. Tenang aja, ini bukan pelajaran kimia kok. Gaya ngobrol aja, santai!


1. 🎡 Apa Itu Color Wheel?

Bayangkan lingkaran warna seperti pizza yang dibagi jadi beberapa potong. Tapi bukan topping yang dibahas, melainkan warna-warna dasar yang nyambung satu sama lain.

Color Wheel alias roda warna terdiri dari:

Also Read: Hening
  • Primary Colors: Merah, Biru, Kuning → warna “mama-papa” yang bisa “beranak-pinak”.

  • Secondary Colors: Orange, Hijau, Ungu → hasil campuran dua warna primer.

  • Tertiary Colors: Campuran antara warna primer dan sekunder, contoh: merah-oranye, biru-ungu, dll.

Jadi intinya: semua warna itu saudaraan. Ada yang kakak-adik, ada yang sepupu jauh.


2. 🎯 Apa Itu Warna Komplementer?

Sekarang bagian serunya: warna komplementer. Ini adalah pasangan warna yang posisinya saling berseberangan di roda warna. Kalau dipasangkan, mereka saling menonjolkan satu sama lain—kayak pasangan beda sifat tapi cocok.

Contoh:

Also Read: Senja Bercerita
  • Merah ❤️ lawan dari Hijau 💚

  • Biru 💙 lawan dari Oranye 🧡

  • Kuning 💛 lawan dari Ungu 💜

    Also Read: Cipularang

Pasangan ini bikin desain kamu “pop”, lebih hidup dan kontras. Tapi hati-hati, jangan terlalu over, nanti malah nyakitin mata. 😅


3. 🤝 Warna Lain yang Bisa Dijodohkan

Kalau kamu nggak suka drama kayak warna komplementer, ada juga pasangan yang lebih kalem:

  • Analogous Colors: Warna yang berdampingan di roda warna. Contoh: biru, biru kehijauan, hijau. Cocok buat desain yang tenang dan harmonis.

  • Triadic Colors: Tiga warna yang membentuk segitiga sama sisi di roda warna. Contoh: Merah, Kuning, Biru. Hasilnya cerah tapi tetap seimbang.

  • Monochromatic: Satu warna, beda gradasi. Contoh: Biru muda, biru sedang, biru tua. Ini cocok buat yang cinta kesederhanaan tapi tetap estetik.


4. 🔧 Tips Praktis Biar Nggak Salah Pilih Warna

  • Gunakan Color Picker Tools seperti Adobe Color, Coolors.co, atau Canva color wheel. Tinggal klik-klik, langsung dapet kombinasi kece.

  • Coba dulu sebelum komitmen—warna di layar kadang beda sama warna cetak.

  • Jangan terlalu banyak warna. 2–3 warna utama cukup. Sisanya? Bisa pakai netral kayak putih, hitam, atau abu-abu.


5. 💡 Warna Bukan Cuma Soal Estetik

Warna juga punya mood. Merah bisa kasih semangat, biru bikin tenang, kuning terasa ceria. Jadi sebelum pilih warna, tanya dulu:

“Perasaan apa yang mau aku bangkitkan dari audiens?”

Kalau kamu lagi bikin desain buat makanan sehat, jangan pakai warna kelabu kayak cuaca mendung. Nanti malah dikira promosi vitamin D. 😆


Penutup: Warna Boleh Bebas, Tapi Jangan Asal

Pahami dasar-dasarnya, bereksperimenlah, dan jangan takut main warna. Color theory itu kayak GPS dalam dunia desain—tanpa dia, kamu bisa nyasar ke “Kampung Tabrak Warna” yang bikin netizen geleng-geleng.

🎨 Intinya: warna yang tepat = desain yang kuat.

AD PLACEMENT
You might also like
Hening

Hening

Discipline Obsession Survival

Discipline Obsession Survival

Senja Bercerita

Senja Bercerita

Cipularang

Cipularang

Helping a Local Business Reinvent Itself and Thrive in a Competitive Market

Helping a Local Business Reinvent Itself and Thrive in a Competitive Market

Lateral Insight – when gamification is misleading

Lateral Insight – when gamification is misleading

AD PLACEMENT