Suara gong ronde baru saja berbunyi. Bocah itu duduk di sudut ring, napasnya tersengal, keringat menetes membasahi wajah. Matanya menatap ke bawah, penuh rasa takut. Di hadapannya, sang pelatih berlutut, menatap dengan sorot mata yang menusuk hati. Ia menggenggam bahu bocah itu erat, lalu berkata dengan suara tegas namun penuh kasih:
Pelatih: “Dengar aku… Apa tujuanmu masuk ring ini?”
Murid: (terdiam, menelan ludah) “Untuk… untuk membuktikan kalau aku bisa…”
Pelatih menghela napas panjang, menatapnya dalam. Ia mengangkat dua jarinya, mengetuk pelipis bocah itu.
Pelatih: “Bukan! Salah besar! Kau tidak ada di sini untuk membuktikan siapa dirimu kepada mereka!” (menunjuk kerumunan di luar ring) “Sorak mereka? Itu akan hilang. Ejekan mereka? Akan berganti. Tapi apa yang kau pelajari di sini…” (menepuk dadanya) “…itu akan melekat seumur hidup!”
Bocah itu menatap pelatihnya, air mata mulai menggenang.
Pelatih: “Kau dengar aku baik-baik! Fokusmu salah. Kau sibuk membuktikan, sampai lupa memperbaiki! Padahal lawan terbesarmu bukan dia…” (menunjuk ke arah ring) “…tapi dirimu sendiri. Hari ini kau kalah atau menang, tidak penting! Yang penting, apakah kau keluar dari sini lebih baik daripada saat kau masuk.”
Bocah itu mulai menggenggam tinjunya. Nafasnya lebih teratur. Pelatih mendekat, suaranya merendah, namun tajam seperti pisau.
Pelatih: “Dunia ini keras, Nak. Kalau kau terus hidup untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain, kau akan kehabisan napas sebelum ronde selesai. Tapi kalau kau hidup untuk memperbaiki diri, kau akan terus maju… bahkan ketika dunia meremehkanmu.”
Bocah itu mengangguk, mata kecilnya kini menyala. Pelatih tersenyum tipis, lalu menepuk wajahnya ringan.
Pelatih: “Sekarang masuk ke ring itu… dan buktikan satu hal—bukan ke mereka, tapi ke dirimu sendiri—bahwa kau lebih kuat dari ketakutanmu.”
Gong berbunyi lagi. Bocah itu bangkit, menatap lawannya dengan wajah yang sama, tapi jiwa yang berbeda. Ia tidak lagi bertarung untuk sorak-sorai, tidak untuk pembuktian. Ia bertarung untuk satu hal: perbaikan diri.—🔥 Kalimat kuncinya:“Fokus pada memperbaiki, bukan membuktikan.”