Kamis sore, 28 Agustus 2025.
Papan keberangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta masih sibuk berkedip-kedip, seperti lampu disko yang sok tahu ritme musik. Suara pengumuman dari speaker pun terdengar datar, tapi bagi hatiku, setiap bunyi “boarding gate dibuka” seperti alarm perpisahan.
Aku tersenyum sendiri, mengingat kebiasaan unik setiap orang terbaikku.
Mei lalu, aku mengantar batch pertama ke Gresik, Surabaya. Ia menyelipkan sebotol parfum ke tasku. Katanya, “Supaya kalau kangen aku, tinggal semprot. Jangan banyak-banyak, nanti orang nyangka kamu buka toko parfum keliling.”
Lalu Agustus ini, batch kedua menuju Semarang. Ia tidak memberi parfum, tapi doa istighfar untuk kuhafalkan setiap pagi dan petang. Katanya sambil nyengir, “Kalau hafalannya lancar, nanti aku traktir tahu gimbal.”
Dan hari ini… bandara kembali jadi saksi.
Dua orang terbaikku lagi harus kuantar.
Yang pertama, ke Balikpapan. Ia membawa blueprint masa depan yang dulu kami coret-coret di Masjid Istiqlal subuh-subuh, pakai spidol pinjaman yang tintanya hampir habis.
Yang kedua, ke Medan. Sosok yang namanya kuabadikan dalam sebuah brand. Kalau namanya jadi merk dagang, mungkin sudah setara dengan minuman isotonik: bikin semangat terus, meski capek.
Aku menatap pesawat yang berbaris di landasan, seperti barisan besi raksasa yang selalu siap membawa pergi—atau membawa pulang. Dan diam-diam aku bergumam, “Tanggal 15 Oktober, mungkin aku akan mengantar satu orang terbaik lagi ke bandara. Siapa ya kira-kira?”
“Mungkin kamu… iyaaaa kamu! 😁😁”
Ah, bandara memang selalu jadi tempat pertemuan dan perpisahan. Tempat aku belajar bahwa cinta, persahabatan, dan doa bisa diselipkan dalam hal-hal sederhana: sebotol parfum, sepotong doa, secarik blueprint, atau sekadar nama yang diabadikan.
Hari ini aku menulis catatan kecil ini.
Bukan untukku. Tapi untukmu.
Karena di setiap keberangkatan, aku selalu percaya… ada satu kedatangan yang paling kutunggu.
Dan semoga—ya, semoga—itu adalah kamu